Kuliah Umum Magister Bimbingan dan Konseling Islam Dorong Mahasiswa Membangun Identitas Profesional dan Kontribusi Nyata

Yogyakarta, 9 September 2026 - Program Magister Bimbingan dan Konseling Islam menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Membangun Identitas Profesional Mahasiswa Magister Bimbingan dan Konseling Islam: Dari Identitas, Kompetensi, Karier, Jejaring, hingga Kontribusi.” Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 9 September 2026 di Ruang Sidang Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kuliah umum ini menghadirkan Dr. Fathur Rahman, M.Si. dan Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si. sebagai narasumber. Kegiatan menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk merefleksikan perjalanan profesional sekaligus memahami pentingnya membangun identitas, kompetensi, karier, jejaring, hingga kontribusi dalam bidang Bimbingan dan Konseling Islam.

Dalam sesi pertama, Dr. Fathur Rahman, M.Si. menyampaikan materi bertajuk “Meneguhkan Identitas Profesional BKI dan Pertanyaan Reflektif Terkait Bimbingan Konseling di Indonesia.” Ia menjelaskan bahwa identitas profesional bukanlah sesuatu yang terbentuk secara instan, melainkan sebuah proses yang bersifat eksploratif, transisional, dan integratif.

Menurut Dr. Fathur, identitas profesional seorang konselor tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Identitas tersebut juga tumbuh melalui keterlibatan dalam pembelajaran reflektif, interaksi profesional secara kolaboratif, serta pengalaman klinis yang dilakukan secara berkelanjutan dan terarah.

Identitas profesional konselor mencakup empat aspek utama, yaitu pemahaman filosofis tentang profesi, pengetahuan tentang profesi, peran profesional dan keahlian, serta kebanggaan terhadap profesi. Dengan demikian, pembentukan identitas profesional perlu berjalan seiring dengan proses pembelajaran dan pengalaman yang mendukung perkembangan kompetensi mahasiswa.

Pembahasan kemudian diarahkan pada peta kajian Bimbingan dan Konseling di Indonesia, termasuk hubungan antara Bimbingan dan Konseling (BK), Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI), serta Bimbingan dan Konseling Islam (BKI). BKI memiliki kekhasan melalui pendekatan dan metode konseling yang berbasis ajaran Islam, baik dalam konteks umum maupun keagamaan.

Dalam konteks tersebut, layanan bimbingan dan konseling tidak semata-mata dipahami sebagai upaya membantu individu mengatasi gangguan psikologis. Bimbingan dan konseling juga memiliki misi pedagogis, yakni mendidik dan memfasilitasi perkembangan individu secara optimal.

Sesi berikutnya menghadirkan Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si. yang membahas tema “Mengembangkan Jejaring dan Kontribusi: Dari Relasi Menjadi Kolaborasi Menjadi Kontribusi.” Dalam pemaparannya, Prof. Casmini menekankan bahwa jejaring merupakan bagian penting dalam perjalanan profesional mahasiswa.

“Gelar memberi legitimasi, kompetensi memberi kepercayaan, jejaring membuka jalan, kontribusi memberi makna.”

Prof. Casmini menjelaskan bahwa jejaring profesional bukan sekadar persoalan seberapa banyak kontak yang dimiliki seseorang. Jejaring yang bermakna dibangun melalui kepercayaan dan kebermanfaatan. Kualitas jejaring tersebut pada akhirnya turut membentuk dan menunjukkan identitas profesional seseorang.

Untuk membangun identitas profesional yang kuat, terdapat lima modal yang perlu dikembangkan, yaitu human capital, social capital, cultural capital, identity capital, dan psychological capital. Kelima modal tersebut mencakup pengetahuan dan keterampilan, kemampuan membangun relasi, kepekaan terhadap budaya dan norma, investasi aktif dalam membangun identitas, serta harapan dan keyakinan diri dalam menghadapi perubahan.

Lebih jauh, mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik. Pengembangan profesional perlu diikuti dengan peningkatan kredibilitas, kompetensi, jejaring, dan kemampuan memberikan kontribusi. Mahasiswa juga diarahkan untuk bertransformasi dari jobseeker menjadi value creator, yaitu individu yang mampu membaca kebutuhan, menawarkan kompetensi, membangun solusi, serta memberikan dampak.

Pertumbuhan profesional tersebut juga membutuhkan lingkungan yang mendukung. Jejaring mahasiswa perlu dikembangkan melalui keterhubungan dengan mentor atau atasan, rekan sejawat, kegiatan riset, serta berbagai lingkungan pembelajaran profesional lainnya.

Melalui kuliah umum yang berlangsung di Ruang Sidang Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, mahasiswa Magister Bimbingan dan Konseling Islam memperoleh perspektif bahwa pendidikan di jenjang magister tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam keilmuan, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun identitas profesional, memperluas jejaring, mengembangkan kompetensi, dan mempersiapkan kontribusi yang lebih nyata.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berkembang sebagai calon profesional Bimbingan dan Konseling Islam yang memiliki kompetensi, karakter, jejaring, serta orientasi kontribusi dalam menghadapi dinamika perkembangan profesi di masa mendatang.