Bersama Merencanakan Aksi: Kegiatan MBKI Bersama Komunitas Lansia Mulyodadi

Yogyakarta, 17 Mei 2026 – Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Islam (MBKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengawali rangkaian kegiatan Participatory Action Research (PAR) lewat kolaborasi antara dosen dan mahasiswa di Pesantren Lansia Yayasan ILMU Yogyakarta. Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dan solusi bersama dari masayrakat.

Kegiatan ini berlangsung berkat kerja sama dengan Yayasan Ilmu Ianah Lestari Mulyodadi. Aris Risdiana sebagai pembina mengatakan, "Yayasan memberikan ruang bagi tim MagisterBKI berkolaborasi dengan masyarakat mitra agar terjadi berbagai sinergi yang baik.

Tahap awal kegiatan PAR ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Hj. Nurjannah, M.Si., selaku dosen MBKI, didampingi tiga mahasiswa, yakni Keti Yuliantika, S.Pd., Auliya Isti'anah, S.Pd., dan Nur Izah Somita, S.Sos. Kehadiran tim ini bukan sekadar formalitas, tapi untuk membangun kedekatan dengan komunitas lansia, membuka percakapan awal, sekaligus memetakan kebutuhan nyata yang akan menjadi pijakan program pendampingan ke depan.

Dalam sambutannya, Prof. Nurjannah menjelaskan alasan pendekatan PAR dipilih. Menurutnya, metode ini memberi ruang bagi para lansia untuk benar-benar terlibat, bukan sekadar menjadi objek penelitian.

"Kami datang untuk belajar bersama, bukan menggurui. Kami ingin memahami perjalanan hidup yang sudah dilalui, menggali kekuatan yang ada dalam komunitas ini. Dengan cara yang partisipatif, kami berharap program yang lahir nanti benar-benar berangkat dari kebutuhan dan harapan para lansia sendiri," ungkapnya.

Kegiatan pembuka ini berpusat pada upaya membangun kepercayaan dengan komunitas, mengenali kondisi psikologis dan spiritual para lansia, mengidentifikasi potensi sekaligus tantangan yang mereka hadapi, dan merumuskan rencana aksi secara bersama-sama. Semuanya berjalan dalam suasana yang hangat mulai dari perkenalan, obrolan dalam kelompok kecil, berbagi kisah hidup, hingga refleksi bersama tentang apa artinya merasa sejahtera secara batin dan spiritual di usia senja.

Prof. Nurjannah juga menekankan bahwa pendekatan konseling multikultural berbasis komunitas sangat penting mengingat para lansia datang dari latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman hidup yang berbeda-beda.

"Kami berharap ini bisa menjadi tempat yang hangat, di mana para lansia bisa bercerita, saling menguatkan, dan menemukan kembali hal-hal yang membuat hidup terasa bermakna dan bahagia, lewat kebersamaan dalam komunitas," tuturnya.

Dari kegiatan ini, tim peneliti berharap dapat merumuskan model konseling multikultural berbasis komunitas yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan psikologis dan spiritual lansia dalam jangka panjang. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat melalui sinergi yang nyata antara dosen, mahasiswa, dan komunitas lansia.