Hadapi Era Polycrisis, Mahasiswa Magister Didorong Hadirkan Riset yang Kontekstual
Seminar Penguatan Riset Konseling Krisis dalam Perspektif Islam menghadirkan Nanang Erma Gunawan, Ph.D. sebagai pembicara utama. Dalam paparannya yang bertajuk “Reorientasi Riset Konseling Krisis dan Problem Menuju Human Growth and Recovery,” ia mengulas pentingnya reorientasi penelitian akademik di tingkat pascasarjana agar lebih responsif terhadap berbagai tantangan sosial dan kemanusiaan yang berkembang saat ini.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Islam, Moh. Khoerul Anwar, Ph.D., menegaskan pentingnya penguatan kapasitas riset mahasiswa sebagai bagian dari upaya menghasilkan karya akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa magister tidak hanya dituntut menyelesaikan tesis sebagai syarat akademik, tetapi juga menghasilkan penelitian yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan dan penyelesaian berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Ia juga berharap seminar ini dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam melihat peluang riset yang inovatif, kontekstual, dan responsif terhadap berbagai tantangan zaman, khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling Islam.
Dalam paparannya, Nanang Erma Gunawan menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi era polycrisis, yaitu kondisi ketika berbagai krisis dan tekanan kehidupan terjadi secara bersamaan serta saling memengaruhi. Oleh karena itu, penelitian tingkat magister perlu diarahkan pada pengembangan pengetahuan baru yang tidak sekadar mereplikasi penelitian terdahulu, melainkan berani mengeksplorasi isu-isu baru yang memiliki nilai kebaruan dan kontribusi yang signifikan.
Untuk memahami manusia secara lebih utuh dalam penelitian konseling, ia merekomendasikan tiga pendekatan metodologis yang dapat digunakan oleh mahasiswa, yaitu Qualitative Contextual Research untuk memahami fenomena secara mendalam sesuai konteksnya, Mixed Methods Research yang mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses penelitian dan pemecahan masalah.
Selain membahas metodologi penelitian, Nanang juga memaparkan formula penyusunan tesis yang berkualitas. Menurutnya, tesis yang baik setidaknya memuat lima unsur utama, yaitu adanya permasalahan nyata di lapangan, kesenjangan teoretik (theoretical gap), konteks lokal yang spesifik, kontribusi praktis bagi masyarakat, serta penggunaan perspektif interdisipliner dalam menganalisis masalah.
Sebagai penutup, ia memberikan sejumlah tips bagi mahasiswa yang sedang mencari topik tesis. Menurutnya, ide penelitian sering kali dapat ditemukan dari lingkungan sekitar, pengalaman pribadi, fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, maupun berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, penelitian yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga relevan dan bermanfaat dalam menjawab kebutuhan nyata di lapangan.