Merawat Empati, Membangun Inklusi: Kolaborasi MBKI UIN Sunan Kalijaga dan WCC

Bantul, 14 Mei 2026 - Dosen dan mahasiswa Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Islam (MBKI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjalin kolaborasi dengan komunitas Waria Crisis Center (WCC) melalui kegiatan bertajuk “Pelatihan Pendekatan Positif Berbasis Refleksi dalam Meningkatkan Kohesivitas Kelompok dan Spiritual.” Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sosial yang menekankan pentingnya dialog humanis, penguatan kesehatan mental, serta pembangunan relasi sosial yang inklusif dan suportif.

Kolaborasi ini menghadirkan ruang diskusi terbuka antara akademisi dan komunitas WCC untuk membangun empati, refleksi diri, serta memperkuat kohesivitas kelompok melalui pendekatan positif berbasis pengalaman hidup. Dosen dan mahasiswa MBKI berkesempatan berdialog secara langsung dengan para transpuan terkait tantangan sosial yang mereka hadapi, mulai dari stigma masyarakat, diskriminasi, hingga perjuangan menjaga kesehatan mental dan membangun rasa percaya diri.

Dalam kegiatan tersebut, komunitas WCC juga membagikan pengalaman mereka dalam mencari ruang aman dan penerimaan sosial di tengah berbagai tantangan kehidupan. Diskusi berlangsung hangat dan setara sehingga peserta dapat saling mendengarkan, memahami sudut pandang satu sama lain, serta membangun komunikasi yang lebih empatik. Selain sesi refleksi dan berbagi pengalaman, pelatihan juga berfokus pada penguatan komunikasi positif dan nilai-nilai spiritual sebagai upaya menciptakan hubungan sosial yang sehat, suportif, dan berkeadilan. Pendekatan reflektif yang digunakan dalam kegiatan ini dinilai mampu membantu peserta memahami pentingnya penerimaan sosial dan penguatan relasi antarmanusia tanpa memandang latar belakang identitas maupun perbedaan lainnya.

Dosen MBKI UIN Sunan Kalijaga, sekaligus Ketua Program Studi Magister BKI, Moh. Khoerul Anwar, Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi akademik dan sosial dalam membangun kesadaran kemanusiaan di tengah masyarakat. Menurutnya, pendekatan konseling dan pendampingan sosial tidak hanya berbicara mengenai teori, tetapi juga mengenai bagaimana menghadirkan ruang dialog yang aman, reflektif, dan penuh empati bagi semua kelompok masyarakat.

“Kolaborasi ini menjadi proses belajar bersama tentang nilai kemanusiaan, penerimaan sosial, dan pentingnya membangun dukungan psikososial yang inklusif. Mahasiswa perlu memiliki sensitivitas sosial serta kemampuan reflektif agar mampu menjadi konselor yang humanis dan adaptif terhadap realitas masyarakat,” ungkapnya.